Ichigo Tabehodai

Memasuki akhir musim dingin tidak hanya menjadi awal dari musim semi, tetapi juga permulaan dari ichigo tabehodai di Jepang, salah satunya di Tokushima.

Ichigo Tabehodai

Ichigo adalah bahasa jepang dari stroberi. Sementara tabehodai juga diadopsi dari bahasa jepang yang berarti all you can eat (makan sepuasnya). Jadi, ichigo tabehodai artinya makan stroberi sepuasnya (sesuai dengan paket, harga & waktu yang telah ditentukan).

Uniknya, ichigo tabehodai bukan hanya sebuah ajang kuliner buah saja, tetapi juga destinasi untuk berwisata-ria. Bagaimana tidak, kita bisa berkunjung langsung ke lahan stroberi yang berbentuk rumah kaca dan bebas memetik dan makan sepuasnya.

Iseya Strawberry Farm

Ichigo tabehodai ada diberbagai tempat di Tokushima, salah satunya di いせや農場 (Iseya Strawberry Farm). Dengan merogoh kocek ¥2.000 bisa menikmati stroberi sepuasnya selama 30 menit.

Akses dari Kota Tokushima ke lokasi dengan mobil pribadi memakan waktu sekitar 30 menit.

Kamus

  • いちご /ichigo/ = Straberry (Stroberi)
  • 食べ放題 /tabehoudai/ = Tabehodai, all you can eat (makan sepuasnya)
  • 農場 /noujo/ = Farm (Pertanian)

Gallery

Kebun Kesemek di Nara 「柿狩り」

Di Jepang, musim gugur menjadi musim yang cukup ditunggu-tunggu. Karena, selain momiji, diperalihan musim panas ke musim dingin ini bakal puas menikmati aneka buah-buahan, salah satunya kaki, di Indonesia dikenal dengan buah kesemek.

Biasanya, rasa yang enak didapat dari buah yang berwarna orange, karena jika terlalu matang (berwarna ke-pink-an), teksturnya menjadi lebih lembek dengan rasa yang sangat manis.

Perkebunan kesemek ini terletak di Yoshino, Nara. Biaya masuk ¥200 (dua ratus yen), bebas memetik buah dan memakan sesukanya. Tapi, kalau berminat membawa pulang, 1 kantong khusus ¥2.000 (dua ribu yen, isi sekitar 7 buah). Selain manis, buah ini juga bikin kenyang, lho..

Fasilitas yang didapat juga tak kalah bagus, jadi tidak perlu membawa banyak persiapan. Disini telah disediakan gunting buah, pisau, ember (tempat sampah) dan juga terdapat bangku-bangku di beberapa tempat (menyerupai meja berkaki 4).

 Catatan
  • 柿「かき」/kaki/ buah kesemek
  • 柿狩り「かきがり」/kakigari/
Lain-lain
  • Perjalanan kali ini disupport oleh HIDA.

Osaka Museum Of Natural History

Museum ini terletak di dalam area Nagai Botanical Park. Biaya masuk ¥100, gratis hanya dengan menunjukkan karcis jika telah membayar sepaket dengan tiket Nagai Botanical Park.

Wisata yang satu ini kaya akan ilmu pengetahuan, seperti tumbuh kembang tanaman mulai dari kecambah hingga berdaun, macam-macam tanaman dari berbagai negara (bahkan jengkol-pun ada), aneka serangga (ada beberapa karung kerangka kosong serangga musim panas ditulis berdasarkan waktu), kerangka manusia hingga hewan, binatang yang diawetkan, dll. Semua disajikan lengkap dengan penjelasan yang sangat detail. Namun, hanya tersedia dalam bahasa jepang, inggris dan latin.

Gudang ilmu ini didesain dengan sangat unik. Mayoritas yang berkunjung adalah anak-anak usia sekolah. Berbagai fasilitas pendukungpun tersedia, seperti permainan yang dirancang dengan sangat menarik. Metode belajar yang diberikanpun cukup variatif, bisa melihat langsung, membaca, menonton video, atau melalui permainan.

Gallery

Osaka Museum Of Natural History

Manggis Muda (Manggih Mudo)

Jika kita bepergian melewati Padang-Bukittingi dengan menggunakan bus, sering ditemui ibu-ibu yang menjajakan aneka makanan tradisional, terutama di daerah Sicincin.
Nah, ada yang unik nih, manggis muda (dalam bahasa Minang dikenal dengan manggih mudo). Buah ini memang belum sefavorit versi matangnya, tapi rasanya khas, daging buahnya padat dan manis, ada rasa asemnya, bahkan bijinyapun bisa dimakan, karena masih lunak; untuk membuka kulitnya saja butuh perjuangan 😀 karena keras dan banyak getah, membukanya harus menggunakn alat seperti pisau. Berbeda dengan versi matangnya dengan daging yang lebih lunak, lebih manis, tapi bijinya tidak bisa dimakan; mudah dibuka hanya dengan menggunakan satu tangan.
Tapi tenang, yang dijual ini udah dalam versi jadi. Kita tidak perlu repot mengupas dan sibuk membersihkan getah yang sulit dihilangkan, cukup dengan membelinya saja. Satu tusuk berisi 4 manggis dibeli seharga Rp 5.000,-. Tapi, kalau beli 3, harganya lebih ekonomis, Rp 10.000,-. Cocok banget dicemil selama perjalanan ataupun buat oleh-oleh 😉

Bengkuang

Bengkuang yang menjadi landmarknya Kota Padang ini merupakan buah khas dari Kota Padang yang sering dijadikan oleh-oleh. Anda bisa menemukannya di Pasar Raya Padang, Air Tawar( sepanjang Simpang Labor hingga Gerbang UNP) dan di Simpang By Pass (Simpang Bandara/BIM).
Bengkuang ini sejenis umbi-umbian yang isinya berwarna putih dengan rasa manis yang khas. Buah ini sering dimakan begitu saja (setelah kulitnya dikupas) atau dibikin rujak. Tidak cuma itu, bengkuang juga sering diolah menjadi masker alami atau bahan dasar produk kecantikan lainnya (seperti: lulur, hand & body, pelembab).
Biasanya buah yang kaya akan air dan vitamin ini dijual seikat-seikat dan dibagi berdasarkan ukurannya (besar dan kecil). Harganya relative ekonomis.

Simauang

Versi Original

Simauang merupakan salah satu bahan makanan khas Palembayan. Biasanya, buah dengan warna hitam ini dimasak menjadi Samba Uwok Simauang. Rasanya unik dengan daging yang empuk dan bikin selera makan meningkat..
Sayangnya, simauang ini hanya berbuah sekali dalam setahun. Bentuknya mirip buah kelapa. Begitu juga dengan batangnya, bahkan bisa 2x lebih besar dari pohon kelapa, tergantung umur tanamnya berapa lama. Karena yang menanam ini adalah nenek-nenek terdahulu. Dia hanya akan berbuah saat batangnya telah besar. Yang kita beli di pakan (pasar) memang sudah dalam bentuk jadi. Padahal, prosesnya rumit lho..

Buah yang jatuh dibiarkan lapuk, biasanya didiamkan selama 3 bulan. Ambil isi didalamnya yang tipis mirip kerang, berwarna hitam. Jika telah matang, kulitnya tanggal sendiri, sementara cangkang didalamnya berwarna putih dengan isi berwarna hitam. Biasanya isinya antara 20-30 biji. Didiamkan selama 3 bulan, direndam 3 malam. Jika kulit cangkangnya telah lepas dan warnanya hitam mengkilat, maka siap diolah menjadi makanan lain, seperti Samba Uwok Simauang. Proses ini tidak selalu berhasil, terkadang masih ada yang masih muda, sehingga tidak bagus dikonsumsi, karena beracun.

Di Palembayan, daerah yang biasanya menjadi penghasil simauang yaitu Kelok Cegek di Padang Bamban dan Kabun di Piladang. Saat ini terbilang cukup langka karena tidak banyak warga yang mau membiakkannya. Mayoritas lebih memilih membeli simauang yang telah dijual di pasar, namun mulai sulit dicari. Harga tergantung patokan gelas yang dipakai, biasanya 1 gelas kecil (dikenal dengan gelas telur), dijual sampai Rp 5.000,-.

Referensi

Nek Mariani & Pakcik Man. Informasi verbal pada 24 Juli 2015 di Piladang.

Versi Instant

Untuk dikirim ke tempat yang jauh yang membutuhkan waktu cukup lama, saya menyarankan Anda untuk membeli simauang dalam bentuk buah dan mengolahnya sendiri. Caranya, pesan simauang di tempat penjualan, biasanya yang menjual hanya satu atau dua orang di pakan Pasar Palembayan, karena simauang mulai sulit ditemukan di masa kini. 10 buah Rp 5.000,-.

Rendam agak semalam, pukul cangkang buah dan korek isinya. Jika ditemukan isi yang memutih seperti bercendawan, dibuang saja, karena rasanya pahit dan tergolong buah yang busuk. Jika buah hitam tapi ada bintil-bintil seperti telur semut versi mini dan berbau busuk, buang saja. Ambil isi yang hitam yang tampak mengkilat.

Referensi

Ni Mar Gagah, informasi verbal pada Agustus 2015 di Palembayan.

Resep Simauang