Kue Jaring Laba-laba & Kue Cubit

Kue cubit, makanan tradisional yang tentunya sudah tidak asing, bukan? Tapi, kue jaring laba-laba, langsung terbayang bentuknya yang seperti jaring laba-laba, namun rasanya..?!

Dalam versi kali ini, masih diambil dari seorang Bapak penjual kaki lima yang sering berjualan di Jl. Gardu, Serengseng Sawah, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Beliau mengkreasikan resep kue cubit menjadi bentuk kue jaring laba-laba. Meskipun adonannya sama, rasanya hampir serupa tapi sedikit berbeda.

  • Bahan:
    • Kue ini terbuat dari beberapa adonan yang dipisahkan dalam empat tempat (menyerupai tempat kecap/sambal).
      • Tepung terigu + gula pasir + air matang.
      • Tepung terigu + pasta rasa pandan (berwarna hijau)
      • Tepung terigu + pasta rasa strawberi (berwarna merah muda).
      • Tepung terigu + pasta rasa anggur (berwarna ungu).
    • Minyak goreng yang sudah dicampur dengan telur ayam/itik.
  • Alat:
    • Cetakan khusus.
    • Pengait khusus.
    • Kompor.
  • Cara:
    • Panaskan cetakan dengan api sedang.
      • Kue Cubit:
        • Tuang adonan terigu seukuran cetakan, jangan sampai melebihi batas atas cetakan.
        • Tambahkan pasta pandan.
        • Tunggu hingga matang.
        • Angkat dan sajikan.
      • Kue Jaring Laba-laba:
        • Tuang adonan terigu dari tengah dan kemudian melingkar dengan jarak sedang.
        • Berikutnya tuang pasta pandan, strawberi dan anggur; dengan cara yang sama dan bergantian.
        • Ketika sisi bawah telah matang, balikkan.
        • Tunggu beberapa saat, angkat dan hidangkan.

Hm, nyummy… Harganyapun ekonomis, kue cubit Rp 1.000,- dan kue jaring laba-laba Rp 2.000,-. Rasa manisnya pas dan gurih. Biasanya, Bapak ini sering mangkal di depan SD di sekitar sini (Serengseng Sawah).

Nasi Liwet & Tradisi ‘Ngeliwet’

Ngeliwet yuk…

Ceritanya nih, ketika ngumpul bareng keluarga, ada tradisi unik dari Sukabumi, orang-orangnya suka ngeliwet! 😉 Hayooo lo yang di Sukabumi.. pada kenal nggak sih sama tradisi yang satu ini?! Jangan sampe ada yang bilang nggak tau ya, ntar saya kasih tau lo.. 😀

Nah, ngeliwet identik dengan nasi liwet. Kuliner tradisional nan unik ini terbuat dari kombinasi beras, bawang merah dan bawang putih yang telah diiris, daun salam, serei/serai yang dikeprok, teri, minyak goreng sekitar 2 sendok makan dan daun pisang.

Caranya, daun salam dan serai ditaruh diatas beras. Tanak nasi seperti biasa, tambahkan minyak goreng, ketika air hampir mengering, aduk rata, timpa permukaan nasi dengan daun pisang, kemudian letakkan teri (jenis teri nasi) diatasnya. Atau, kalau mau, teri tersebut juga bisa dicampur langsung dengan nasi (dimasak bersamaan).

Ketika air nasi hampir mengering, api dikecilkan, nanti bakal mengerak, nah enaknya nasi liwet itu tuh disini karena aroma keraknya itu 🙂 Biasanya, tradisi akan makin lengkap jika makan bareng-bareng di pelepah pisang.

Kalau nggak mau langsung pake teri, dibikin oseng-oseng, teri digoreng dan ditambahkan kacang tanah. Teri yang digunakan juga nggak selalu jenis teri nasi. Selain itu, sebagai pelengkap, bisa menambahkan menu lauk (seperti: tahu/tempe goreng, ampela, ayam goreng, dll), sayur (lalapan) dan sambal (yang digoreng atau mentah ditaruh diatas nasi liwet yang mau kering).

Gimana, mau ikut ngeliwet?! Hayuk… Mantap dah.. 😉

Shared by: Kiki san

Moci-moci

Di Indonesia, makanan ini terkenal sebagai salah satu oleh-oleh unggulan dari Sukabumi. Makanan yang aslinya berasal dari Jepang ini diolah dengan resep khas Sukabumi. Bentuknya mirip makanan onde-onde dari Padang, sama-sama terbuat dari tepung beras ketan, namun intinya diisi dengan kacang yang telah dicampur dengan gula tebu/aren; kemudian bagian luarnya dilumuri dengan tepung. Tersedia dalam rasa strowberi, blueberry, vanila, dll.
Selain di Sukabumi, moci-moci juga banyak ditemukan di beberapa tempat di Bogor. Begitu juga dengan citarasanya, semakin variatif.

Recommended by: Kiki san

Waroeng SS

Hayo lho… yang berada di Depok dan sekitarnya kudu nyobain gih kuliner maknyus yang satu ini. Disini terdapat aneka sambal dan menu dengan rasa mantap dan harga yang cukup ekonomis.

Untuk sambal mulai dari Rp 2.500,- dan aneka lauk (ayam, ikan, seafood, dll) rata-rata Rp 7.500,-. Selain itu, juga tersedia aneka minuman.

Waroeng SS memakan waktu sekitar 10 menit dengan menaiki angkutan kota (angkot) setelah lampu merah dari lokasi Margo City. Tatanan tempatnya juga nyaman, cocok banget buat sekedar ngedate atau makan bareng, terutama buat yang lagi ulang tahun dan berniat mentraktir teman (bajet ekonomis!) 😀

Tempat ini recommended by Lisa & Otan.

Asinan Bogor

Berbeda dengan asinan Medan yang kuahnya tampak lebih bening, asinan Bogor berwarna kemerahan (seperti telah ditambahkan cabe merah giling). Terus, jika versi Medan buahnya cenderung satu-satu jenis, misal: asinan salak, asinan jambu biji, dll.; maka, versi Bogor lebih kompleks: potongan aneka buah (kedondong, mangga muda, nenas, bengkuang, salak, jambu, dan ubi jalar merah) dengan ukuran sedang dan sedikit ditipiskan. Selain itu, ada pelengkap seperti: kacang (kayaknya telah dirandang/sangrai) dan cabe giling khusus.

Soal rasa, tak jauh berbeda.. Manis-manis asin, tapi.. bikin doyan! Recommended banget nih buat yang bingung nyariin oleh-oleh khasnya Bogor 😉 Tapi, cemilan tinggi serat dan cenderung dikonsumsi oleh para pengaku diet ini sepertinya tidak bisa bertahan lama, kecuali di suhu kulkas 🙂

Makam Belanda (Dutch Graveyard)

Komplek pemakaman tua ini telah ada jauh sebelum Kebun Raya Bogor didirikan tahun 1817 oleh C.G.C Reinwardt. Bentuk nisan, ornamen dan tulisannya sangat menarik untuk Anda amati.

Disini terdapat 42 makam, 38 diantaranya mempunyai identitas, sedangkan sisanya tak dikenal. Kebanyakan yang dimakamkan disini adalah keluarga dekat gubernur jenderal yang menjabat tahun 1836-1840. Juga makam Mr. Ary Prins, seorang ahli hukum yang pernah dua kali menjadi pejabat sementara gubernur jenderal Hindia Belanda.

Ada pula dua orang ahli biologi yang meninggal tahun 1820-an dalam usia muda dan dikuburkan dalam satu makam. Mereka adalah Heinrich Kuhl dan J.V. Van Hasselt, anggota ‘The Betherlands Commission for Natural Sciences” yang dikirim ke Indonesia untuk bekerja di Kebun Raya Bogor.

Makam tertua di komplek pemakaman ini adalah makam seorang administrator toko obat berkebangsaan Belanda yang bernama Cornelis Potmans, wafat 2 Mei 1784. Sedangkan yang paling baru adalah makam Prof. Dr. A.J.G.H Kostermans yang meninggal tahun 1994. Ia adalah seorang ahli botani terkenal dari Belanda yang menjadi warga negara Indonesia sejak tahun 1958. Kostermans dimakamkan dekat lingkungan tumbuhan yang ia cintai sesuai keinginannya, selain sebagai penghargaan pemerintah Indonesia atas jasa-jasanya untuk ilmu pengetahuan. Hingga akhir hayatnya, ia bekerja di kantor Herbarium Bogoriense yang terletak di seberang Kebun Raya Bogor.

Dutch Graveyard

This old cemetery was here long before the garden was established by C.G.C Reinwardt in 1817. The gravestones, their ornaments and scripts are quite artistic. There are 42 gravers, in the area; 38 of which supplied the identities of the dead persons. Most of them were relatives of the Dutch colonial governor generals at the time. Among these are the graves of D.J de Eerens a governor general during 1836-1840 and Mr. Apy Prins a lawyer who were twicw the acting governor general.

Here are where two young biologist were in one grave: HeinrichKuhl and J.C. Van Hasselt. They were members of the Netherlands Commission for Natural Sciences who worked t the garden and claimed as the first to climb and reach the peak of Mt. Pangrango in West Java.

The oldest grave in this area is the grave of a Dutch chemist administrator, Cornelis Potmans, …..

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Kebun Raya Bogor, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.